Hubungan Kerja Patron Klien Juru Parkir

Contoh Tesis~Hubungan Kerja Patron Klien Juru Parkir (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Hubungan Kerja Patron Klien Juru Parkir di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar)

Juru Parkir

Latar Belakang

Persoalan pokok yang dialami oleh negara-negara berkembang pada umumnya adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup penduduknya yang sebagian besar tergolong miskin. Salah satu alternatif untuk meningkatkan taraf hidup kelompok masyarakat yang miskin adalah dengan pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar mereka hanya mungkin dicapai apabila ada dan tersedianya lapangan kerja yang dapat untuk menambah ataupun sebagai sumber utama bagi pendapatan mereka. Pekerjaan bagi manusia dewasa adalah persoalan yang paling mendasar dibanding dengan masalah-masalah lain, dan merupakan persoalan nyata yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pembangunan yang semata-mata memfokuskan diri pada masalah pertumbuhan dan pemerataan, sebenarnya kurang mengena bila hanya dilihat dari retorika politik (Ngadisah, 1987:1).

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan pergerakan yang sangat dinamis menuntut manusia untuk bergerak cepat dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada. Tuntutan inilah yang nantinya mampu menjawab akan kesiapan dalam menghadapi pembangunan tersebut, karena tidak dipungkiri dari suatu pernyataan, bahwa semakin maju suatu pembangunan maka semakin banyak pula suatu permasalahan yang akan muncul dari efek pembangunan itu sendiri.

Rumusan Masalah

Sehubungan dengan pemaparan latar belakang di atas maka dapat ditarik rumusan masalah:

Bagaimana hubungan kerja patron klien juru parkir di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar?

Tujuan penelitian

Sesuai dengan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas maka tujuan yang hendak dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui bagaimana hubungan kerja patron klien juru parkir yang ada di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar.
  2. Untuk mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan hubungan kerja patron klien juru parkir di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar.

Kesimpulan

Berdasakan penelitian yang telah dilakukan dan analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan ini diuraikan sebagai berikut:

  1. Keseluruhan pola hubungan antar juru parkir di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar menunjukkan adanya hubungan kerja patron klien dalam kegiatan perparkiran. Hubungan kerja tersebut menempatkan kedudukan atau status ekonominya sebagai juragan dan anak buah. Hubungan kerja ini berlaku antara Koordinator Lapangan (patron) dengan Juru Parkir Resmi (klien), dan antara Juru parkir Resmi (patron) dengan Juru Parkir tidak Resmi (klien). Dalam hubungan kerja patron-klien juru parkir yang terjadi di Taman Pancasila Karanganyar  seorang juru parkir resmi juga dapat memposisikan dirinya menjadi patron, karena selain juru parkir resmi menjadi anak buah dari koordinator lapangan, mereka juga mempunyai anak buah yaitu juru parkir tidak resmi yang membantu juru parkir resmi dalam mengatur parkir di lapangan.
  2. Pola hubungan kerja yang terjadi antara patron dengan klien di Taman Pancasila Kabupaten Karanganyar merupakan pola hubungan timbal balik antara patron dengan kliennya. Bagi para klien, mereka bekerja untuk mendapatkan upah atau pembagian hasil parkir. Hasil parkir digunakan oleh klien dalam rangka untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan bagi patron, merupakan sebuah keinginan untuk meningkatkan taraf hidup melalui pengembangan usaha yang dimiliki.
  3. 3.Hubungan kerja  patron-klien sebagai fakta sosial-kultural yang hanya didasarkan pada perjanjian informal. Tetapi, dalam praktiknya, tidak pernah ada garansi akan munculnya perubahan yang bersumber dari percampuran dengan kepentingan ekonomi dan politik. Melihat situasi tersebut, peluang terjadinya eksploitasi olehpatron terhadap kliennya menjadi sangat besar.

Artikel Yang Terkait:

Incoming search terms:

Hubungan Kerja Di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban

Contoh Tesis~Hubungan Kerja Antara Juragan Batik, Mandor Penggarap Dan Pengrajin Pembatik Di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban  Kabupaten Sukoharjo

Interaksi Sosial

Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk sosial tidaklah dapat hidup sendiri melainkan butuh bantuan dari orang lain. Apalagi bagi seseorang yang bergerak dalam dunia usaha, baik itu usaha kecil, usaha menengah maupun usaha yang tergolong besar. Perkembangan yang demikian pesat dalam dunia nasional maupun internasional memberikan banyak fenomena dan alternatif dalam kegiatan perekonomian masyarakat.

Apalagi bagi pengusaha batik atau lazimnya disebut juragan batik, sangat membutuhkan tenaga-tenaga buruh atau pengrajin pembatik untuk melangsungkan usahanya. Juragan  adalah kelas pemilik usaha yang menguasai aset produksi dan memepekerjakan buruh.  Juragan atau  Pengrajin pengusaha adalah pengrajin besar yang sudah berpengalaman dengan kecukupan modal tertentu bagi usahanya. Mereka telah menjalin hubungan kerja dengan pengusaha lain, seperti eksportir dan pemilik toko.

Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini, perlu kiranya penulis membatasi masalah. Pembatasan masalah ini bertujuan untuk menghindari semakin meluasnya bahasan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

“ Bagaimana Hubungan Kerja Antara Juragan Batik dengan Mandor Penggarap, Juragan Batik dengan Pengrajin Pembatik, Mandor Penggarap dengan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo ? ”

Tujuan Penelitian

  1. Mendiskripsikan secara mendalam tentang hubungan kerja antara Juragan Batik dengan Mandor Penggarap, Juragan Batik dengan Pengrajin Pembatik, Mandor Penggarap dengan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  2. Mengetahui karakteristik Juragan Batik, Mandor Penggarap dan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya mengenai pola hubungan kerja dalam industri kerajinan batik tulis di Desa Bekonang serta mobilitas kerja dari pengrajin pembatik, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dalam industri kerajinan batik tulis di Desa Bekonang, terdapat hubungan kerja antara pengusaha batik dengan pengrajin pembatik / pembatik rumahan. Dalam hubungan tersebut terdapat hak-hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kewajiban pengusaha batik terhadap pengrajin pembatik adalah memberikan upah. Selain itu juga menyediakan fasilitas peralatan produksi seperti kain mori untuk membatik, kain berupa mori/sutra,  gawangan (rangka atau bambu untuk membentangkan kain), malam (lilin untuk membatik), anglo/kompor (untuk merebus malam), wajan (tempat mencairkan malam), canting dengan berbagai ukuran (untuk mengoleskan lilin ke mori) dan tempat duduk atau  dingklik.

Pengusaha batik juga berkewajiban mengelola jalannya proses produksi kain batik dengan baik. Sedangkan hak dari pengusaha batik adalah mendapatkan keuntungan atau laba atas usaha industri kerajinan rumah tangga yang dijalankannya. Setelah mengeluarkan modal atau biaya untuk proses produksi, maka pengusaha batik berhak memperoleh pendapatan yang sebanding dengan apa yang dikeluarkannya. Kewajiban dari pengrajin pembatik adalah melaksanakan apa yang sudah menjadi tugasnya, dengan menerima setiap tugas dari pengusaha batik contohnya adalah  mola (membuat pola),  ngiseni (mengisi bagian yang sudah dibuat polanya),  nerusi (membatik pada sisi yang sebaliknya), nemboki  (menutup bagian kain yang tidak akan diwarnai), dan  mbiriki (proses penghalusan tembokan) kemudian menyerahkan kain batik yang telah jadi sesuai dengan persetujuan antara kedua belah pihak.

Artikel Yang Terkait: