Implementasi Kurikulum Khusus Autis Di SLB Autis Alamanda Surakarta

Contoh Tesis~Implementasi Kurikulum Khusus Autis Di Sekolah Luar Biasa (SLB) Autis Alamanda Surakarta

Pendidikan Luar Biasa

Latar Belakang Penelitian

Melihat kenyataan bahwa pendidikan merupakan salah satu hal yang penting, maka setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan  dan merasakan pendidikan. Seperti yang tertuang dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diselenggarakan tidak membedakan jenis kelamin, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan Tidak terkecuali juga para penyandang cacat. Khusus bagi para penyandang cacat disebutkan pula dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 2 bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan khusus yang dimaksud adalah pendidikan luar biasa, dimana setiap kebutuhan khusus tersebut akan memperoleh pelayanan khusus yang sesuai dengan kemampuan, karakteristik , dan kebutuhannya.

Sekolah-sekolah khusus yang telah ada dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan kondisi anak antara lain sekolah khusus tunanetra untuk anak tunanetra (SLB A), sekolah khusus tunarungu wicara untuk anak tunarungu wicara (SLB B), sekolah khusus tunagrahita untuk anak tunagrahita (SLB C), sekolah khusus tunadaksa untuk anak tunadaksa (SLB D), sekolah khusus tunalaras untuk anak tunalaras (SLB E), sekolah khusus autis untuk anak autis, dan sekolah khusus untuk berbagai jenis kebutuhan khusus yang dapat dimasuki oleh berbagai jenis kebutuhan khusus (SLB).

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah disampaikan di atas, maka perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pelaksanaan kurikulum khusus autis di SLB Autis Alamanda?
  2. Bagaimana hasil yang dicapai?
  3. Kendala apa yang ditemui dalam pelaksanaan kurikulum tersebut?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Untuk memperoleh gambaran pelaksanaan kurikulum khusus autis di SLB Autis Alamanda.
  2. Untuk mengidentifikasi hasil yang dicapai dari pelaksanaan kurikulum khusus autis di SLB Autis Alamanda.
  3. Untuk mengidentifikasi kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kurikulum khusus autis di SLB Autis Alamanda.

Kesimpulan

Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan tentang implementasi kurikulum khusus autis di SLB Autis Alamanda, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Sebelum diterima menjadi siswa SLB autis Alamanda, siswa terlebih dahulu akan menjalani proses assessment yaitu penilaian awal terhadap kemampuan siswa.
  2. Pemberian materi untuk setiap siswa berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain yaitu dengan menerapkan pembuatan Program Pelaksanaan Individual (PPI).
  3. Pelaksanaan pembelajaran di SLB Autis Alamanda berlangsung dari Hari Senin sampai Jumat yang dibagi dalam dua kelompok kelas yaitu kelas individual dan kelas klasikal. Pemberian pembelajaran di kelas individual bersifat sangat individual dengan menerapkan pembelajaran  one-on-one yaitu satu siswa akan dihendle oleh satu guru. Sedangkan untuk kelas klasikal setiap kelas berisi 2-3 siswa dimana pemberian pembelajarannya dilakukan secara bersama-sama dengan memadukan kurkulum khusus autis yang mengacu pada perbaikan perilaku, komunikasi, sosialisasi dan interaksi anak dengan kurikulum SLB-C yang memperkenalkan siswa pada pembelajaran di sekolah regular, sebab kelas klasikal merupakan kelas transisi sebagai kelas persiapan untuk anak autis menuju sekolah regular.
  4. Pada Hari Sabtu siswa SLB Autis Alamanda diberi kegiatan ekstrakurikuler yang diisi dengan kegiatan menari, kegiatan olah raga, dan berbagai kegiatan permainan dan kompetisi sebagai ajang sosialisasi dan interaksi anak-anak autis di SLB Autis Alamanda.

Artikel Yang Terkait:

Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Perkotaan PemKot Surakarta

Contoh Tesis~Penataan Pedagang Kaki Lima Dalam Kaitannya Dengan Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Pemerintah Kota Surakarta

Penataan PKL

Latar Belakang Masalah

Tujuan pembangunan nasional yang tertuang dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 pada alenia empat antara lain: mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan umum dan memelihara perdamaian dunia. Dalam rangka untuk mewujudkan kesejahteraan umum salah satunya adalah dalam pembangunan sektor ekonomi. Emil Salim (1993:3) mengatakan bahwa hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan adalah pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Ini berarti bahwa pembangunan mencakup:  pertama, kemajuan lahiriah seperti pangan, sandang, perumahan dan lain-lain; kedua, kemajuan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, rasa keadilan, rasa sehat, dan ketiga, kemajuan yang meliputi seluruh rakyat sebagaimana tercermin dalam perbaikan hidup berkeadilan sosial.

Pembangunan sektor ekonomi pada masa orde baru bertumpu pada kemampuan konglomerat (Mubyarto, 2003 : 2), kemampuan konglomerat mengalami kehancurkan pada saat  krisis ekonomi yang teramat dahsyat. Krisis ekonomi di Indonesia terjadi diawali dari krisis moneter, dimana nilai tukar mata uang rupiah jatuh terhadap dolar Amerika Serikat (Bayu Krisnamurti, 2002: 2), dengan krisis moneter mengakibatkan krisis ekonomi dimana diawali dengan pertumbuhan ekonomi menurun, inflasi meninggi, banyaknya pegawai di PHK, meningginya harga pangan impor, pengurangan subsidi BBM, dan sebagainya.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kebijakan penataan ruang kawasan perkotaan oleh pemerintah kota Surakarta?
  2. Bagaimana kebijakan penataan pedagang kaki lima di sekitar Monumen Perjuangan 45 Banjarsari kota Surakarta oleh pemerintah kota Surakarta?
  3. Kendala-kendala apa saja yang dijumpai oleh pedagang  kecil Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi dalam upaya pengembangan usahanya?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan yang diharapkan dapat dicapai, adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan penataan ruang kawasan perkotaan di Surakarta yang dilaksanakan oleh pemerintah kota Surakarta.
  2. Untuk mengetahui penataan pedagang kaki lima di sekitar Monumen Perjuangan 45 Banjarsari Kota Surakarta yang dilaksanakan Pemerintah Kota Surakarta.
  3. Untuk mengetahui  kendala-kendala apa saja yang dijumpai  pedagang kecil Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi  dalam upaya pengembangan usahanya.

Kesimpulan

  1. Pemkot Surakarta dalam penataan ruang kawasan kota , selalu berupaya agar lahan-lahan yang ada digunakan sesuai dengan peruntukannya, dengan maksud untuk menciptakan lingkungan tata kota yang bersih, sehat, rapi dan indah. Penataan ruang kota sesuai dengan UU.No. 26 Th. 2007, sesuai dengan RTRW dan RTR serta memenuhi Perda Kodya Dati II Surakarta. No. 8 Th. 1995 tentang Penataan dan Pembinaan PKL.
  2. Relokasi PKL Monumen Perjuangan 45 Banjarsari yang berjumlah  989 PKL di relokasi ke Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi dapat dilaksanakan dengan sukses, dengan penuh kesadaran serta motivasi yang kuat untuk maju serta berkembang.  Para pedagang melaksanakan dengan penuh kesadaran dan suka rela. Relokasi terlaksana tanpa menimbulkan gejolak sosial, hal ini berkat adanya komunikasi yang intensif dengan prinsip “nguwongke wong”.  Dengan komunikasi sambung rasa yang dilakukan Pemkot Surakarta, para PKL bersedia di relokasi dengan semangat baru menyongsong kehidupan usaha yang baru untuk berkembang menatap masa depan.
  3. Para pedagang kecil di Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi dalam mejalankan usahanya tidak terlepas dari kendala-kendala. Kendala yang dihadapi dalam upaya mereka untuk mengembangkan usahanya ialah kesulitan mendapatkan pinjaman modal usaha dalam bentuk pinjaman lunak dengan bunga rendah, sepinya pasar akibat kurangnya promosi serta kurangnya /tiadanya angkutan umum yang masuk ke wilayah pasar, letak pasar yang jauh dipinggiran kota., dilingkungan yang terkesan kumuh.