Hubungan Kerja Di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban

Hubungan Kerja Di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban

Contoh Tesis~Hubungan Kerja Antara Juragan Batik, Mandor Penggarap Dan Pengrajin Pembatik Di Desa Bekonang Kecamatan Mojolaban  Kabupaten Sukoharjo

Interaksi Sosial

Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk sosial tidaklah dapat hidup sendiri melainkan butuh bantuan dari orang lain. Apalagi bagi seseorang yang bergerak dalam dunia usaha, baik itu usaha kecil, usaha menengah maupun usaha yang tergolong besar. Perkembangan yang demikian pesat dalam dunia nasional maupun internasional memberikan banyak fenomena dan alternatif dalam kegiatan perekonomian masyarakat.

Apalagi bagi pengusaha batik atau lazimnya disebut juragan batik, sangat membutuhkan tenaga-tenaga buruh atau pengrajin pembatik untuk melangsungkan usahanya. Juragan  adalah kelas pemilik usaha yang menguasai aset produksi dan memepekerjakan buruh.  Juragan atau  Pengrajin pengusaha adalah pengrajin besar yang sudah berpengalaman dengan kecukupan modal tertentu bagi usahanya. Mereka telah menjalin hubungan kerja dengan pengusaha lain, seperti eksportir dan pemilik toko.

Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini, perlu kiranya penulis membatasi masalah. Pembatasan masalah ini bertujuan untuk menghindari semakin meluasnya bahasan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

“ Bagaimana Hubungan Kerja Antara Juragan Batik dengan Mandor Penggarap, Juragan Batik dengan Pengrajin Pembatik, Mandor Penggarap dengan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo ? ”

Tujuan Penelitian

  1. Mendiskripsikan secara mendalam tentang hubungan kerja antara Juragan Batik dengan Mandor Penggarap, Juragan Batik dengan Pengrajin Pembatik, Mandor Penggarap dengan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  2. Mengetahui karakteristik Juragan Batik, Mandor Penggarap dan Pengrajin Pembatik di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya mengenai pola hubungan kerja dalam industri kerajinan batik tulis di Desa Bekonang serta mobilitas kerja dari pengrajin pembatik, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dalam industri kerajinan batik tulis di Desa Bekonang, terdapat hubungan kerja antara pengusaha batik dengan pengrajin pembatik / pembatik rumahan. Dalam hubungan tersebut terdapat hak-hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kewajiban pengusaha batik terhadap pengrajin pembatik adalah memberikan upah. Selain itu juga menyediakan fasilitas peralatan produksi seperti kain mori untuk membatik, kain berupa mori/sutra,  gawangan (rangka atau bambu untuk membentangkan kain), malam (lilin untuk membatik), anglo/kompor (untuk merebus malam), wajan (tempat mencairkan malam), canting dengan berbagai ukuran (untuk mengoleskan lilin ke mori) dan tempat duduk atau  dingklik.

Pengusaha batik juga berkewajiban mengelola jalannya proses produksi kain batik dengan baik. Sedangkan hak dari pengusaha batik adalah mendapatkan keuntungan atau laba atas usaha industri kerajinan rumah tangga yang dijalankannya. Setelah mengeluarkan modal atau biaya untuk proses produksi, maka pengusaha batik berhak memperoleh pendapatan yang sebanding dengan apa yang dikeluarkannya. Kewajiban dari pengrajin pembatik adalah melaksanakan apa yang sudah menjadi tugasnya, dengan menerima setiap tugas dari pengusaha batik contohnya adalah  mola (membuat pola),  ngiseni (mengisi bagian yang sudah dibuat polanya),  nerusi (membatik pada sisi yang sebaliknya), nemboki  (menutup bagian kain yang tidak akan diwarnai), dan  mbiriki (proses penghalusan tembokan) kemudian menyerahkan kain batik yang telah jadi sesuai dengan persetujuan antara kedua belah pihak.

Artikel Yang Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *